Telpon

pissed phone call

Coba ya, berapa kali kamu-kamu ngerasa pengen mbanting telpon atau handphone? Lebih sering berkaitan sama syapa? orang tua, temen, rekan kantor, atau kekasih?

Sebagian besar mungkin menjawab pilihan terakhir. Bener gak? Urusan komunikasi, dalam hal ini berhubungan lewat telepon, seringkali bikin mood saya amburadul ndak jelas. Is that true? or it’s just me?

Cewek yang cenderung menggunakan perasaannya untuk berpikir seperti sayah kalo lagi kumat gituh daripada menggunakan otaknya, kadang kala tidak bisa berpikir jernih. Komunikasi lewat telpon, harus dilandasi rasa kepercayaan. Lha mana tau saat pasangan menelpon, ada yang sedang dirinya lakukan? Ngapain? sama siapa? knapa jadi riwil gini ya?

Apalagi kalau dia barusan sms, trus kita telpon, malah gak diangkat. Lha kareppe piye seh? Namun, jika kita sedikit, eh jangan sedikit ding, agak banyak, menggunakan otak atau setidaknya berpikir secara logis, kita bisa pelan-pelan membaca situasi. Jam berapa sekarang? biasanya dia lagi apa? apa tadi dia cerita mau melakukan suatu hal sehingga tidak bisa nerima telpon? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya bisa sedikit menenangkan jika kita bisa berpikir logis.

Jadi intinya apa? Ya pokoknya saya ndak suka kalo telpon saya gak diangkat-angkat! Lagi ngapain siiihh?!!

Ini postingan emang ndak jelas. Sumprit. πŸ˜†

Bertatap Muka dengan Boediono

Angkringan Wetiga hari Selasa kemarin (26/05) dikunjungi oleh tamu salah seorang calon wakil presiden kita yaitu Bapak Boediono dalam acara yang bertajuk Obrolan Langsat, Boediono Menjawab. Ceritanya dalam rangka diskusi dengan Blogger, bukan untuk kampanye. Walaupun saya bukan pengamat politik, saya yang belum pernah bertemu secara langsung dengan beliau, maupun calon wapres lainnya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal secara personal calon wapres kita yang satu ini.

Beliau datang pukul 19.00 dengan senyum sumringah, langsung menghampiri gerobak angkringan serta mengambil sosis solo dan pisang goreng. Diskusi pun dimulai setelah beliau duduk lesehan di panggung ditemani oleh Ndorokakung sebagai moderator. Dari pembawaannya yang tenang, terlihat kalau beliau ini orang yang irit bicara. ” Nanti saja ya, mas..” seloroh Ndorokakung menirukan kebiasaan beliau jika wartawan mengerubungi mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Saya tidak akan membicarakan apa-apa yang telah beliau lakukan di masa lalu ataupun mengomentari kiprahnya di dunia perekonomian maupun politik saat ini, apalagi membahas neolib yang akhir-akhir ini sepertinya sedang menjadi kata kunci yang berhubungan erat dengan beliau. Tulisan ini merupakan salah satu sarana pengingat kesan saya bertemu langsung dengan beliau, karena jujur saja, politik itu bukan makanan saya sehari-hari sih :D. Paling banter baca-baca politikana aja buat sekedar mengetahui gosip atau berita politik yang lagi hot πŸ˜€

Ditanya mengenai internet, cawapres yang murah senyum ini mengatakan kalau dirinya tidak sering menggunakan internet, ” Saya belum punya Facebook.. Setiap harinya belum pasti saya membuka internet..“. Dalam perbincangan yang berlangsung tadi malam, terlihat sekali beliau ini sangat menjaga perkataannya, mungkin saja agar tidak terlihat sedang kampanye :D. “Urusan pilih memilih, it’s up to you“, katanya.

Namun, saat diminta untuk sedikit kampanye, alasan mengapa kita memilih beliau serta pak SBY, dengan santai dan tidak menggebu-gebu beliau menjawab: ” Kita merupakan tim yang kompak. Saat saya memutuskan ‘ya, saya mau ikut’, itu adalah chemistry saya dengan beliau (pak SBY.red). Saya tidak melakukan kontrak-kontrakan dengan beliau, yang enak saja dan tentunya ada sambung rasa.“.

Sepanjang diskusi, Beliau ini terlihat tenang dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Dan tak sungkan untuk tertawa lepas saat ditanya tim sepak bola mana yang dipilah dalam final Piala Champion. “Saya suka MU,..”, ujar Beliau yang katanya terakhir kali main sepakbola tahun 2003-2003. Wah, kalo yang ini kita ndak kompak pak, kalo saya apa saja selain MU soalnya πŸ˜†

Pertemuan tadi malam, sedikit membuka wacana saya mengenai calon pemimpin kita di masa yang akan datang. Namun belum tentu saya bakal memilih beliau, kita lihat saja nanti bagaimana sepak terjang beliau dalam masa-masa kampanye ini :D. Semua calon pemimpin yang nantinya akan kita pilih, sudah pasti memiliki tujuan yang sama, intinya ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tinggal bagaimana cara mereka meyakinkan masyarakat untuk memilih mereka atau memilih solusi apa yang terbaik untuk segala permasalahan di negara ini.

Tidak lupa berfoto dengan pak Boediono

Tidak lupa berfoto dengan pak Boediono πŸ˜€

*poto minjem dari mas Bambang..suwun ya mas :D*

Puas Makan di Festival Jajanan Bango 2009

Hari Sabtu (23/05) kemarin, saya dan beberapa teman berwisata kuliner ke Festival Jajanan Bango (FJB) yang berlokasi di Senayan. Acara yang bertema kulinari ini secara rutin diselenggarakan oleh Kecap Bango setiap tahunnya. Ternyata kali ini adalah FJB yang kelima, dan saya baru sekali ini ikutan acara ini πŸ˜€ Masuknya sih gak bayar, cuma mesti siapin dana yang cukup untuk puas-puasin jajan sesuai kapasitas perut πŸ˜†

Berangkat dari rumah memang sudah sengaja tidak sarapan terlalu banyak, karena memang mau memuaskan diri untuk jajan-jajan di sana nantinya hehehe.. Setelah janjian bertemu dengan teman-teman, akhirnya kita masuk ke venue lewat jalan yang ‘ilegal’ alias dari belakang panggung, tau-tau, kita dah nongol aja gitu ke daerah jajanan pasar yang juga menjual es-esan.. Pas benerrrr..lagi panas-panas gitu, langsung menyerbu gerai jajanan dingin-dingin di depan mata.. Segelas es blewah seharga 5000 sukses menyegarkan tenggorokan yang kering inih πŸ˜€Β Target selanjutnya tentu saja mengisi perut yang udah siap menampung jajanan yang enak-enak.

Mau tau jajanan apa aja yang saya cicipin? Nih.. πŸ˜€

jajanan

Cuaca siang itu memang panas banget, tapi lumayan bisa duduk dan berteduh di bawah kanopi dan tenda yang memang sudah disediakan untuk tempat makannya. Kita sampai di lokasi jam 1 siang, memang sudah rame sih tapi masih enak buat ngantri jajan sana sini tanpa harus menunggu terlalu lama. Secara umum sih mereka cukup cepat dalam penyajian, paling ya antri karena memang pengunjungnya standnya yang ramai.

Dalam FJB 09 ini ternyata ada beberapa kategori peserta misalnya, ada Duta Bango, Resep Warisan, Cara Memasak Otentik, Penyajian Tradisional dan Bahan Baku pilihan. Β Seperti Kupat Tahu Gempol di gambar atas, merupakan salah satu duta Bango yang berasal dari Bandung, begitu juga dengan soto udang yang dari Medan. Cuma agak kaget aja sama harga soto udangnya, 30 ribu! mana dikiiiit..tapi udangnya sih banyak dan gede-gede πŸ˜† Harga makanannya sekitaran 5000 sampe 30000. Kaya kupat tahu itu, cuma 10000 πŸ˜€ Selain itu, bango juga bagi-bagi Rujak ala Bango secara gratis. Bumbu rujaknya dari kecap bango plus cabai dan bumbu-bumbu lainnya. Yah, lumayan enak sih..

FJB

Enaknya sih memang pergi rame-rame, jadi bisa ngicipin macem-macem jajanan tanpa keluar uang terlalu banyak. Oia, satu hal yang kemarin kelupaan adalah bawa payung! iya, mau panas mo ujan, musti bawa payung! Panasnya ampun-ampunan, dan setelah sekitar 1,5 jam di sana, tau-tau ujan! Kita langsung mlipir berlindung di bawah payung kanopi. Untungnya perut dah kenyang, jadi kita putuskan untuk pintong karena takut ujan deres dan butuh AC! πŸ˜†

note: poto rame-ramenya nyolong dari aad :P, makasih ya ad..

are you in your comfort zone?

Comfort zone atau zona nyaman, kosakata yang sering banget kita dengar dan mungkin tanpa sadar membawa kosakata tersebut dalam pembicaraan kita sehari-hari. Apa sih comfort zone itu? Intinya sih, comfort zone itu merupakan suatu tahap dalam kehidupan yang kita jalani tanpa rasa kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan dan biasanya tidak banyak terlalu banyak menghadapi resiko. Ini sih definisi versi saya lho ya..Kalo mau lebih lengkapnya, monggo di-googling πŸ˜€

Hmm..jujur saja saat ini saya memang sedang berada dalam zona nyaman. Entah sampai kapan, tidak ada yang tau. Perubahan itu terjadi kapan saja, bahkan tiap detik bukan? Lalu, apakah anda termasuk orang yang betah berlama-lama di dalam sana? Namanya juga zona nyaman, apa-apa yang terjadi di dalam sana pasti membuat anda enggan untuk beranjak. Tapi tak jarang pula terbersit rasa takut bahwa berlama-lama di sana akan membuat diri ini tidak berkembang, tidak tertantang sehingga tidak mengalami pencapaian-pencapaian yang lebih tinggi lagi dari waktu ke waktu.

comfort_zone

Dalam waktu dekat atau jauh, pilihan untuk meninggalkan zona nyaman atau tidak pasti datang. Saya kadang bertanya-tanya, siapkah saya? Dengan segala kenyamanan ini, apa saya berani meninggalkannya? Butuh keberanian memang, karena di luar sana begitu banyak tantangan dan resiko yang tidak temui sebelumnya di sini. Keluar dari zona nyaman untuk kehidupan yang lebih baik, apa sudah pasti lebih baik? Semua itu sudah tentu kembali kepada diri sendiri. Bagaimana membuat sesuatu yang baru itu menjadi sesuatu yang lebih baik, lebih bermanfaat, tentu saja dengan usaha yang lebih. Toh Yang Diatas sudah memberikan kita begitu banyak kemampuan yang bakal karatan kalau tidak digunakan dengan optimal.

Untuk saat ini sih, saya baru menikmati zona nyaman saya, mumpung masih bisa merasakan :D. Namun, jika pilihan itu datang, saya siap. Siap untuk memilih dan mempertimbangkan plus minusnya antara meninggalkan zona nyaman saya atau membuat zona nyaman yang baru sehingga dengan sendirinya zona tersebut akan semakin luas bukan?

gambar ngambil entah dari manah.. πŸ˜†

Cerita Sahabat

mp_friends_2-young-girls

Berapa banyak teman yang kamu punya? tak terhitung? Lalu berapa banyak sahabat yang kamu punya? Saya yakin, untuk menjawab pertanyaan ini, kita butuh waktu sejenak untuk berpikir siapa saja sih yang benar-benar menjadi teman dalam suka dan duka kita?

Saya akui, sahabat saya tidak banyak, sedikit sekali malah. Walaupun begitu, entah kenapa, saya tidak pernah merasa kekurangan. Mungkin kalian juga merasa seperti itu. Memahami orang lain, terutama teman, yang begitu banyaknya, dengan karakter bermacam-macam, bukan pekerjaan mudah. Namun, dalam perjalanan kita memahami teman-teman kita, bukan mustahil bahwa kita menemukan seseorang yang tanpa susah payah kita pahami dan mengerti. Begitu pula sebaliknya. Seseorang itulah yang ke depannya berpotensi menjadi sahabat kita, yang apabila berada di dekatnya, ada perasaan lega, tak harus memikirkan atau melakukan apapun di luar keinginan kita. Berteman dengan apa adanya, sungguh merupakan kelegaan sangat.

Bagi saya, sahabat itu bukanlah seseorang yang selalu ada, paling update info tentang kita, atau orang di mana kita bergantung maupun sebaliknya. Saya lebih senang bersahabat dengan hati. Di mana hati ini yang menggerakkan segala perlakuan dan tingkah laku kita kepada sahabat. Saya dan sahabat sama-sama menikmati persahabatan ini dengan hati. Tanpa paksaan, saling mengerti dengan sendirinya, dan tak lupa berbagi. Berbagi hal-hal yang pantas dan perlu untuk dibagi. Berbagi hal-hal yang menyenangkan untuk dibagi.

Sahabat yang selalu sedia setiap saat, saya rasa sangat sedikit sekali. Ada yang mengatakan juga bahwa sahabat itu adalah orang selain keluarga kita yang siap untuk kita kapan saja. Saya hanya setuju pada pernyataan itu untuk kasus-kasus khusus, yang di luar kebiasaan. Bukan sahabat namanya kalau memaksakan kehendak, bukan sahabat namanya kalau tidak mengerti kondisi sahabat kita sendiri. Masing-masing kita punya kehidupan bukan? πŸ˜€ Di situlah sahabat berperan, memahami tanpa harus menghakimi.

Saya punya seorang sahabat. Kita memang tidak selalu bersama akhir-akhir ini. Namun bukan berarti tanpa adanya komunikasi persahabatan bisa selesai begitu saja bukan? Dia ini teman kuliah waktu di Jogja dulu. Tidak terhitung berbagai macam kejadian yang dilalui bersama. Kalau biasanya ada saatnya antar sahabat itu bertengkar atau berselisih paham, saya tidak pernah mengalaminya dengan dia. Mungkin karena persahabatan ini dijalani dengan hati. Sedikitpun saya tidak pernah punya rasa kesal, marah atau apapun yang negatif terhadap dia. Aneh gak sih? πŸ˜† Dan kita bukan tipe sahabat yang selalu telpon-telponan, selalu jalan bareng, dan selalu-selalu lainnya. Kita bersahabat apa adanya. Saling mengerti dan memahami. Itu saja.

Saya masih ingat saat saya akan kembali ke Jakarta, dan dia masih di Jogja, perpisahan yang menguras air mata dan tentu saja menyesakkan. Tak berapa lama kemudian dia bekerja di Jakarta, dan kita pun bertemu kembali. Tapi bukan berarti setiap saat kita dengan mudah saling bertemu untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Seperti saya bilang tadi, masing-masing kita punya kehidupan. Tetapi persahabatan dengan hati ini tak akan pernah terputus. Baru saja Jumat kemarin saya bertemu dengannya sebelum dia pergi untuk jangka waktu yang lama ke Kalimantan. Bertemu kembali dengan perpisahan. Saya bertahan untuk tidak sedih, lebih baik saya berdoa untuk segala kebaikan dia πŸ™‚ *ngusap air mata*

**Untuk Di..my dear.. take care yah… πŸ™‚ **

*gambar diambil dari sini