Cerita Sahabat

mp_friends_2-young-girls

Berapa banyak teman yang kamu punya? tak terhitung? Lalu berapa banyak sahabat yang kamu punya? Saya yakin, untuk menjawab pertanyaan ini, kita butuh waktu sejenak untuk berpikir siapa saja sih yang benar-benar menjadi teman dalam suka dan duka kita?

Saya akui, sahabat saya tidak banyak, sedikit sekali malah. Walaupun begitu, entah kenapa, saya tidak pernah merasa kekurangan. Mungkin kalian juga merasa seperti itu. Memahami orang lain, terutama teman, yang begitu banyaknya, dengan karakter bermacam-macam, bukan pekerjaan mudah. Namun, dalam perjalanan kita memahami teman-teman kita, bukan mustahil bahwa kita menemukan seseorang yang tanpa susah payah kita pahami dan mengerti. Begitu pula sebaliknya. Seseorang itulah yang ke depannya berpotensi menjadi sahabat kita, yang apabila berada di dekatnya, ada perasaan lega, tak harus memikirkan atau melakukan apapun di luar keinginan kita. Berteman dengan apa adanya, sungguh merupakan kelegaan sangat.

Bagi saya, sahabat itu bukanlah seseorang yang selalu ada, paling update info tentang kita, atau orang di mana kita bergantung maupun sebaliknya. Saya lebih senang bersahabat dengan hati. Di mana hati ini yang menggerakkan segala perlakuan dan tingkah laku kita kepada sahabat. Saya dan sahabat sama-sama menikmati persahabatan ini dengan hati. Tanpa paksaan, saling mengerti dengan sendirinya, dan tak lupa berbagi. Berbagi hal-hal yang pantas dan perlu untuk dibagi. Berbagi hal-hal yang menyenangkan untuk dibagi.

Sahabat yang selalu sedia setiap saat, saya rasa sangat sedikit sekali. Ada yang mengatakan juga bahwa sahabat itu adalah orang selain keluarga kita yang siap untuk kita kapan saja. Saya hanya setuju pada pernyataan itu untuk kasus-kasus khusus, yang di luar kebiasaan. Bukan sahabat namanya kalau memaksakan kehendak, bukan sahabat namanya kalau tidak mengerti kondisi sahabat kita sendiri. Masing-masing kita punya kehidupan bukan? 😀 Di situlah sahabat berperan, memahami tanpa harus menghakimi.

Saya punya seorang sahabat. Kita memang tidak selalu bersama akhir-akhir ini. Namun bukan berarti tanpa adanya komunikasi persahabatan bisa selesai begitu saja bukan? Dia ini teman kuliah waktu di Jogja dulu. Tidak terhitung berbagai macam kejadian yang dilalui bersama. Kalau biasanya ada saatnya antar sahabat itu bertengkar atau berselisih paham, saya tidak pernah mengalaminya dengan dia. Mungkin karena persahabatan ini dijalani dengan hati. Sedikitpun saya tidak pernah punya rasa kesal, marah atau apapun yang negatif terhadap dia. Aneh gak sih? 😆 Dan kita bukan tipe sahabat yang selalu telpon-telponan, selalu jalan bareng, dan selalu-selalu lainnya. Kita bersahabat apa adanya. Saling mengerti dan memahami. Itu saja.

Saya masih ingat saat saya akan kembali ke Jakarta, dan dia masih di Jogja, perpisahan yang menguras air mata dan tentu saja menyesakkan. Tak berapa lama kemudian dia bekerja di Jakarta, dan kita pun bertemu kembali. Tapi bukan berarti setiap saat kita dengan mudah saling bertemu untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Seperti saya bilang tadi, masing-masing kita punya kehidupan. Tetapi persahabatan dengan hati ini tak akan pernah terputus. Baru saja Jumat kemarin saya bertemu dengannya sebelum dia pergi untuk jangka waktu yang lama ke Kalimantan. Bertemu kembali dengan perpisahan. Saya bertahan untuk tidak sedih, lebih baik saya berdoa untuk segala kebaikan dia 🙂 *ngusap air mata*

**Untuk Di..my dear.. take care yah… 🙂 **

*gambar diambil dari sini