Merdeka Indonesiaku

Gimana perasaan kalian menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus? Kalau senang, tentu saja, tanggal merah memang bikin orang senang. Kalau disuruh ikut upacara bendera di kantor, malah bisa jadi saya protes. Mungkin banyak yang sependapat juga dengan saya. 😆 Tanggal 17 Agustus merupakan momen paling bersejarah milik bangsa Indonesia. Yang pasti saya merasa bersemangat! Semangat yang muncul tiap tahun ini, mestinya tidak meredup di hari-hari lain sepanjang tahun. Iya tidak?

Merayakan 64 tahun negeri ini merdeka dari penjajahan boleh saja dan tentu harus disyukuri. Kita tidak lagi mengalami peperangan seperti masa-masa perjuangan dulu, dengan mengusung bambu runcing dan peralatan perang. Eh? sepertinya ada yang salah. Apa benar kita tidak dalam peperangan? Tentu tidak akan pernah lupa dengan serangan-serangan teroris yang tidak main-main baru-baru ini. Merenggut nyawa orang tidak berdosa, menyebabkan kepanikan sesaat masyarakat. Iya sesaat, karena setelah itu pun aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Teroris biarlah menjadi urusan pemerintah. Kita tetap lanjut cari makan. Nggak mungkin juga kita semua sibuk ikutan mengurusi teroris kan? Satu lagi, hai teroris: Kami Tidak Takut. Jangan lupakan itu.

Ingat dengan kasus Prita. Kemerdekaan akan mengungkapkan pendapat terbentur dengan undang-undang yang justru bisa mematikan suara-suara masyarakat. Kritik ataupun complaint tidak bisa sembarangan, sedikit-sedikit dituntut, sedikit-sedikit pencemaran nama baik. Masih berharap undang-undang yang dimaksud di atas bisa diperbaiki agar lebih manusiawi.

Ah, masih banyak yang harus dibenahi di negeri tercinta ini. Berharap betul pemimpin-pemimpin yang menjadi wakil rakyat benar-benar mengerti apa yang dibutuhkan oleh negara ini. Kemiskinan, kesehatan, ekonomi, pendidikan, korupsi, teroris, dan seterusnya kalian tahu lah. Suara rakyat segitu kencangnya mestinya terdengar. Kami semua menaruh harapan akan tercapainya kehidupan yang layak. Layak saja dulu, tidak usah terlalu mewah.

Tidak ada yang menyangkal bahwa di negeri ini kesenjangan sosial nyata terlihat. Harapan saya bahwa semakin lama gap tersebut semakin mengecil, walaupun perlahan, bukannya malah tambah besar. Yang kaya makin kaya, begitu pula yang miskin, makin miskin. Kepedulian sosial, frase yang gaungnya kemana-mana. Tapi entah sampai atau tidak ke mereka-mereka bergelimang harta dan tersumpal mata dan telinganya.

Sebagai orang Indonesia, lahir dan besar di Indonesia, saya tetap mencintai Indonesia. Bangga akan Indonesia dengan segala kemajemukan dan keunikannya. Apapun yang melanda Indonesia akhir-akhir ini, kita tak boleh putus berharap dan berjuang. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau? Tetap semangat, lakukan yang terbaik untuk negerimu. Janji?

Oke, cukup serius-seriusannya..Mari kita nikmati sajian videoklip dari artis-artis ternama ibukota berikut ini.. 😛

Di sela-sela kesibukannya, temen-temen dari KopdarJakarta, menyempatkan diri untuk ikut memeriahkan 17-an kali ini dengan membuat videoklip lagu Hari Merdeka beramai-ramai yang di-direct langsung oleh Goenrock. Semoga klip ini menjadi penyemangat kita untuk terus mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif dan penuh semangat ya!

SEMANGAT TEMAAAANNN!!!

Salam,

Advertisements

Merantau The Movie

MerantauPoster

Saya sudah lama tidak menyempatkan diri untuk menonton film Indonesia di bioskop. Mungkin karena belum ada film baru Indonesia yang cukup mengoda saya untuk meluangkan waktu barang 2-3 jam saja. Namun film Merantau ini, merupakan salah satu film Indonesia yang tanpa saya pikir panjang telah membuat saya sungguh tergoda untuk menyaksikannya. Saya tidak akan membahas film ini secara teknis karena jujur saja hal tersebut bukan sesuatu yang menjadi perhatian saya. Saya jauh lebih tertarik melihat teknik gerakan silat yang ditampilkan di film ini.

Senang sekali rasanya ada film action Indonesia yang mengangkat seni beladiri kita yaitu Pencak Silat. Rasanya bangga jika melihat gerakan silat yang gagah nan cantik itu diangkat ke layar lebar *walaupun tentu saja teknik aslinya disesuaikan dengan skenario pertarungan* . Apalagi sebelum diputar di Indonesia, Film Merantau ini lebih dahulu diputar di Cannes Festival pada 13 Mei lalu di Palais B dan 15 Mei di Lerins 2. Merantau juga menjadi film penutup dalam rangkaian Festival ke-13 Puchon International Fantastic Film Festival, Hongkong Filmmart Maret lalu serta film pembuka Festival tahun ke-3 Jogya NETPAC ASia Festival (sumber: http://www.republika.co.id)

Film ini ber-genre action, tentang perjalanan seorang pemuda di perantauan yang dalam perjalanannya menyebabkan dirinya dituntut untuk mampu menjaga dan membela dirinya dengan kemampuannya sebagai pesilat.

Diceritakan dalam film ini bahwa menurut tradisi Minangkabau, seorang anak lelaki ‘diharuskan’ untuk merantau ke luar daerahnya -dalam film ini adalah ke kota Jakarta- sebagai upaya pendewasaan dan pembuktian diri. Digambarkan pula semacam upacara pelepasan Yuda (Iko Uwais) sebelum dirinya berangkat merantau yang ditambah dengan wejangan dari Guru Silat Yuda. Ada yang menarik, sebelum berangkat, sang guru silat akan mengetes muridnya dahulu, siap atau tidak menghadai dunia baru di perantauan, dengan cara menguji kemampuannya bertarung melawan gurunya. Saya suka scene ini karena mereka menggunakan seragam silat lengkap 🙂

Perantauan Yuda di Jakarta tidak selalu berjalan dengan mulus. Mulai dari dompetnya yang hampir dicopet oleh seorang anak jalanan, tidak sengaja berkenalan dengan sorang gadis saat dirinya ingin menyelamatkannya dari pemilik klub yang berbuat kasar, hingga terseret dalam sindikat human trafficking.

Silat itu untuk kebaikan. Itulah esensi dari silat. Karena dalam silat, kita dididik untuk selalu berbudi pekerti luhur dan tidak menfaatkan kemampuan untuk hal yang tidak baik. Prinsip ini sangat dipegang oleh Yuda, sehingga dia tidak dapat mendiamkan kejahatan terjadi di depan matanya. Hal itu pula yang membuatnya ingin terus menolong Astri (Sisca Jessica), perempuan yang tidak sengaja ditemuianya, dari Ratger -pimpinan komplotan human trafficking yang menculik Astri. Jadi jelas, bahwa film ini memilki tema yang standard, kebaikan melawan kejahatan. Yang endingnya menurutku kurang greget, malah menyebalkan mungkin 😆

Hampir 70 persen film ini berisi adegan pertarungan atau perkelahian. Teknik silat yang digunakan oleh Yuda mungkin kurang terlihat, secara umum sama seperti gerakan pertarungan biasa. Namun kalau diperhatikan, ciri khas teknik silat Indonesia, yaitu menyerang langsung ke daerah yang mematikan, bisa terlihat. Juga saat dirinya menyiapkan kuda-kuda dan mengantisipasi serangan lawan, bahasa tubuhnya menggambarkan bahwa Yuda jelas pesilat. Adegan Eric (pemuda pesilat yang merantau juga) saat melumpuhkan seorang petarung cukup membuat penonton terkesima. Karena tidak sampai semenit, ia dapat melumpuhkan petarung itu dengan menyerang titik-titik kelemahan yang menyebabkan kelumpuhan seperti daerah muka, tempurung lutut, ulu hati, dan bagian lainnya.

Untuk teknik pertarungan yang ditampilan saya rasa cukup menakjubkan, detail-detail serangan cukup indah dilihat. Pertarungan final juga sangat menarik. Ternyata si penjahat yang orang asing itu, bisa bertarung juga. Dan tekniknya pun lumayan. Saya kira mereka hanya lelaki kaya raya yang cuma bisa menyuruh anak buahnya dan berlindung dibaliknya.

Mengenai akting pemain, jangan berharap banyak. Kecuali Christine Hakim yang memang artis senior, pemeran lainnya berakting dengan cukup memadai lah. Walaupun dialog-dialog wagu ya pasti ada. Maklum, tokoh utamanya, Iko Uwais adalah seorang atlet silat, bukan pemain film. Pelatihan akting hanya dilakukan selama 6 bulan saja katanya. Menurutku bisa diterima lah, apalagi dia cakep. Kemampuan aktingnya dibantu dengan teknik silat yang menarik untuk dinikmati. Adegan lebay dan berlebihan, ada juga, namun tidak mengubah opini saya bahwa film Merantau ini sangat layak tonton. Saya kasih rating 8/10 deh.. Setelah menontonnya, saya jadi rindu akan latihan silat. Aduh itu teknik harimau udah lupa kali ya saya.. 😆

Salam,