New Wave Marketing : Start with Community

Welcome to New Wave Marketing Era. Join it or you will be left behind.

Begitu kata Hermawan Kartajaya sekitar pertengahan tahun lalu. Di akhir tahun 2007, beliau me-launch delapan tren marketing, nomor satunya adalah Internet Booming. Benar saja, sejak tahun lalu sampai sekarang, semakin banyak orang yang tidak bisa hidup tanpa internet. Mungkin berlebihan, namun jika dipikir kembali sepertinya benar juga. Hal ini didukung dengan akses internet yang makin ke sini semakin dipermudah dan dipermurah. Sehingga kata-kata ‘internet itu mahal’ sudah jarang terdengar. Hal ini terbukti dengan persaingan para provider internet memberikn pelayanan paling murah namun memuaskan.

New wave marketing di sini diartikan sebagai suatu konsep marketing yang menggunakan ‘jalur’ baru. Bukan lagi hanya above atau below the line, namun menggunakan jalur internet sebagai sarana pemasaran ataupun promosinya. Tidak lagi berbentuk vertikal, namun horizontal. Tidak meninggalkan hard selling, namun juga lebih concern terhadap soft selling. Menganggap customer itu sejajar dengan marketer. Dimana keterlibatan customer secara langsung dalam proses product development sudah menjadi pertimbangan penting bagi mereka para marketer. Kalau kata Philip Kotler : think customers and you’ll be save. Dengan kata lain, rengkuhlah para pelanggan Anda supaya bisnis Anda tetap berlangsung baik. Jika para marketer sudah sangat familiar dengan sembilan prinsip marketing yang dimulai dengan segmenting, targeting, positioning, diferentiation, marketing mix, selling, brand, service, dan process, di new wave marketing ini prinsip-prinsip tersebut bertransformasi ,menjadi : communitization, confirming, clarifying, crowd-combo, commerzialitation, charater, caring, dan collaboration. So, communitization is the new ‘segmenting’. Hal ini merupakan poin penting untuk memulai bagaimana konsep new wave marketing ini dijalankan.

Manusia itu makhluk sosial, maka sudah kodratnya jika mereka senang berkelompok. Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki kesukaan, hobi yang sama, memiliki ‘nasib’ yang sama, membuat masing-masing diri kita menjadi lebih percaya diri dan lebih nyaman. Seperti disebutkan dalam teori Maslow bahwa dari dulu dari tahun ke tahun manusia pada umumnya membutuhkan rasa untuk berada dan diterima di dalam suatu lingkaran sosial. Bahkan teori motivasi Maslow mengatakan bahwa kebutuhan ini merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting. Jalinan yang tejadi di dalam komunitas-komunitas ini menimbulkan rasa kepercayaan yang otomatis terjadi seiring dengan proses sosialisasi yang mereka lakukan. Sekarang kalau ditanya, Anda lebih percaya mana: iklan atau teman anda sendiri? Saya yakin lebih banyak yang menjawab teman. Karena pengalaman personal, tanpa sadar telah menjadi bahan pertimbangan Anda sebelum menjadi konsumen barang atau jasa apapun.

Masyarakat new wave tidak cuma berbagi dengan komunitasnya sendiri saja. Mereka saat ini menjadi pewarta akan berita apapun yang mereka ingin sharing di internet. Jalur internet yang begitu bebas, membuat semua orang dapat mengakses berita tersebut. Penyebaran berita pun bisa terjadi begitu cepat, bahkan dalam hitungan detik.

Komunitas merupakan sasaran pertama dalam konsep ini. bagaimana mencari komunitas yang cocok atau pas dengan produk anda. Misalnya produk anda merupakan produk culinary. Dekati komunitas-komunitas pecinta kuliner, undang atau ajak mereka para blogger atau social media activist yang biasa menulis tentang kuliner ke event anda. Jika mereka suka, tentu dengan senang hati mereka akan berbagi pengalaman di blog mereka. Promosi gratis bukan? Apalagi blog dengan traffic yang tinggi, pembacanya banyak, dan informasi pun menyebar dengan cepat.

Komunitas pencinta buku, saat ini tidak akan jauh-jauh dari toko buku online, karena biasanya mereka menawarkan diskon2 menarik seperti ini salah satunya. Penikmat buku sejati biasanya tidak melewatkan penawaran semacam ini. Tidak melulu jualan buku, sekali waktu mereka adakan acara seperti nonton bareng film yang difilmkan dari buku yang mereka jual. Hal ini tentu saja salah satunya dilakukan untuk
me-maintain para pelanggan dan untuk menjalin kedekatan personal dengan mereka.

Ada juga brand yang membangun forum baru yang diperuntukkan sesuai
pangsa pasarnya. Perempuan remaja misalnya, seperti situs ini. Mereka melakukan branding dengan menjadi teman curhat online para perempuan remaja, tempat bertanya seputar masalah kewanitaan. Kemudahan untuk join atau bergabung dan berinteraksi di sana, akan membentuk komunitas baru dengan sendirinya, tentu saja disertai admin yang me-maintain situs tersebut.

Sekarang ini sudah semakin banyak event yang mengundang blogger blogger atau para social media activist sebagai salah satu strategi marketing mereka. Social media activist yang dianggap eksis di komunitasnya diundang, dan diminta untuk meliput acara dengan menuliskannya di blog atau melakukan live reporting melalui microblogging. Mereka akan menerima dengan senang hati, karena bersosialisasi merupakan kegemaran mereka. Namun perlu dicatat, bahwa setiap blogger memiliki karakter masing-masing yg tercermin pada tulisan-tulisan di blognya. terlalu banyak syarat-syarat penulisan liputan atau ketentuan-ketentuan yang tidak sedikit merupakan ide yang kurang tepat untuk diimplementasikan. Kebebasan itu nomor satu bagi mereka, they’ve already had their style, and they’ll keep it that way.

Besarnya gelombang akibat ‘jalur jualan’ yang baru ini alias internet, dapat dilihat bahwa saat ini apa saja bisa dijual di internet. Lewat media apapun, blog, facebook, twitter, apa saja yang ditawarkan di internet. Saking bebasnya, Anda harus pintar meyakinkan customer dan sebaliknya, Anda sebagai customer, jadilah customer yang cerdas! Mengutip pernyataan Nukman Luthfie sebagai salah satu online marketing strategist, bahwa online marketing itu berjalan berdasarkan tiga hal yaitu trust, trust, dan trustGet your community, gain their trust, and you’ll get your loyal customer.

Tulisan ini merupakan tanggapan dari artikel berjudul Kehidupan Sosial Bagi Seluruh Masyarakat New Wave, untuk Bloggers @MarkPlus Conference 2010

Advertisements

16 thoughts on “New Wave Marketing : Start with Community

  1. Pingback: Bloggers @ MarkPlus Conference 2010 | Deddy Andaka 's Blog

  2. Sebetulnya munculnya komunitas itu berasal dari omong-omong anatar teman…sama seperti menjadi blogger..atau nara blog, awalnya kan karena melihat teman lain kok asyik ya menulisnya, terus kita ikut coba-coba dan keterusan.

    Internet mau tak mau membuat orang kecanduan, melalui internet kita bisa punya banyak teman walau berjauhan, mudah mendapatkan informasi, bahkan lamaran kerja dan test awalpun dilakukan melalui internet.

  3. Pingback: MarkPlus Conference 2010 free ticket winners is out! by Dhe Blog

  4. Pingback: blog2 yg ter-invite MarkPlus Conference 2010 (bag1) « Guru Kencing berDiri, dua tiga Pulau terLampaui

  5. Pingback: blog DEDI DWITAGAMA ter-invite MarkPlus Conference 2010 « Dedi Dwitagama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s