500 Days of Summer

Boy meets girl. Boy falls in love. Girl doesn’nt.
This is not a love story, but this is a story about love.

Begitu tagline dari film (500) Days of Summer yang baru semalam saya tonton. Kisah seorang laki-laki yang mempercayai takdir dan cinta, jatuh cinta pada seorang perempuan yang sama sekali tidak percaya kedua hal tersebut. Nah, kebayang kan gak ’jodoh’nya?
Pertama kali Tom Hansen ( Joseph Gordon-Levitt) bertemu dengan Summer Finn(Zooey Deschanel) di kantornya, dia langsung yakin kalo she’s the one. Yes, he fell in love at the first sight and believes that she’s the one. Summer sendiri adalah perempuan yang tidak percaya akan cinta, dia tidak butuh pacar (saat ini), dan mumpung masih muda, dia ingin menikmatinya sepuasnya.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya, Tom merasa ‘click’ dengan Summer, dan begitu pula sebaliknya. Makin ke sini, Tom makin percaya kalo Summer itu adalah cinta sejatinya. Mereka selalu bersama, menghabiskan waktu berdua, ya seperti orang pacaran pada umumnya.

Tapi, Summer dari awal mengatakan kepada Tom, that their relationship is not going anywhere. Padahal mereka sudah berhubungan selayaknya orang pacaran lho. Tom sebenernya kaget, namun begitu cintanya dia pada Summer, maka dia pun memaklumi saja, asalkan dia dan Summer sama-sama bahagia dan tetap berharap Summer akan berubah dan mengakuinya sebagai pasangannya.

Yang menarik dari film ini adalah dialog-dialognya yang gak biasa dan alurnya yang random flashback. Jadi ada hari ke-1, ke 28, mundur ke-320, maju lagi ke-112, mundur lagi ke 415, sampai hari ke-500 (angka harinya saya sebut random soalnya gak hafal 😛 ). Semuanya menceritakan kisah Tom yang mencari takdir cintanya. Mengingat-ingat memori indah bersama Summer, dan tetap meyakinkan dirinya sendiri kalau Summer itu cinta sejatinya. Bagaimana dia percaya sekali kalau Summer hanya untuknya, sampai kegamangan hatinya akan sifat Summer yang sulit berubah, yang tetap tidak percaya cinta.

Adegan yang cute banget, waktu mereka jalan-jalan ke IKEA, tempat perabotan rumah tangga. Mereka berlagak selayaknya suami istri yang memilih-milih perabotan, sampai ikut nyobain kasurnya. Waktu pertama kali Tom dan Summer berhubungan cinta, paginya Tom berangkat kerja dengan bahagia, dan di jalanan semua orang ikutan bahagia sampai nari-nari segala. Ini agak lebay, tapi lucuuu… Kita dibawa untuk ikut mengerti perasaan Tom, yang mungkin gemes kenapa Summer kok gak mau mengakui sebagai pasangannya meskipun hubungan mereka sudah seperti pasangan pada umumnya. Tapi namanya cinta mati, dia oke-oke saja tanpa label. Sampai dia bilang, ” We don’t put labels, boyfriend, girlfriend. It’s like.. very juvenile.

Well, apakah Summer akan mempercayai cinta atau takdir pada akhirnya? Apakah Tom tetap percaya kalau Summer adalah jodohnya? Nonton sendiri aja ya… 😛
Potongan-potongan kisah cinta Tom di sini menurut saya gak ngebosenin, banyak dialog yang mengundang senyum walaupun sebenernya saya kurang suka endingnya sih, ya soalnya udah jatuh cinta sama Summer sih *ups spoiler bukan ya ini :p * .Karena saya juga masih berharap film ini adalah love story, padahal udah dibilangin di taglinenya kalo ‘this is not a love story’ hahaha… But I think this movie is very cute though 🙂

Note: gambar diambil dari sini.

Advertisements

Leverage TV Series

leverage_wallpaper_cast_01_1024x768

They are…

The Hacker…

The Hitter…

The Thief…

The Seductress…

And the Man with the Plan…

When Ocean 11 meets The A-team. Kalau kalian suka kedua film itu, udah pasti bakal ketagihan juga nonton yang ini. Yups, serial Leverage ini seperti gabungan dari kedua film tersebut. Karakter-karakter yang unik plus strategi yang canggih, bakal ditemui dalam setiap episodenya.

Cerita ini dilatarbelakangi oleh kemarahan Nathan Ford (Timothy Hutton) seorang insurance fraud investigator yang bekerja di IYS Insurance kepada perusahaanya sendiri. Karena saat anaknya sekarat karena kanker, perusahaannya tidak mau membayar claim untuk keperluan operasi yang seharusnya ia dapat. Akhirnya anak lelaki semata wayangnya pun meninggal di meja operasi. Semenjak itu, Nathan depresi berat, tidak punya pekerjaan, menjadi pecandu alcohol dan bercerai dengan istrinya.

Dia bertekad akan membalas dendamnya dengan cara membantu masyarakat biasa yang dirugikan oleh lembaga atau instansi yang dengan kejam merenggut hak yang seharusnya didapat oleh mereka. Ya, istilahnya seperti Robin Hood gitu deh. Tentu saja dia tidak bekerja sendiri. Bersama teman-temannya yang memiliki keahlian unik tersendiri, mereka bekerja sama membantu masyarakat yang direnggut hak-haknya. Mereka bekerja tidak berdasarkan uang, hanya ingin menolong saja. It’s just that simple, walaupun apa yang mereka kerjakan itu tidak simple sama sekali. Perlu perencanaan strategi yang matang, analisa kasus, dan memantau pihak-pihak yang terkait dalam kasus tersebut. Inilah yang dilakukan oleh Nathan, the man with the plan.

Continue reading